Sebanyak 70 guru seni budaya dari berbagai SMA di Jawa Timur berkumpul dalam Workshop Guru Seni SMA Jawa Timur 2025 yang diselenggarakan di Balai Besar Guru Kejuruan dan Teknologi (BBGTK), Kota Batu. Kegiatan ini diawali dengan laporan dari Ketua MGMP Seni Budaya SMA Provinsi Jawa Timur, Deddy Iskandar, S.Sn., yang menyampaikan latar belakang kegiatan, capaian program sebelumnya, serta pentingnya kesinambungan kolaborasi antarguru seni. Dalam laporannya, Deddy juga memotivasi para peserta dengan kisah-kisah inspiratif tentang perjalanan MGMP seni budaya yang telah menjadi ruang tumbuh bersama bagi guru-guru seni di Jawa Timur. Ia menekankan bahwa seni adalah jembatan antara pendidikan dan kebudayaan yang tidak boleh putus.
Setelah laporan tersebut, kegiatan resmi dibuka oleh Bapak Abu Khaer pada pukul 16.00 WIB. Dalam sambutannya, beliau menggarisbawahi pentingnya guru seni untuk tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga pencipta ruang ekspresi yang menghidupkan suasana belajar. Ia menyampaikan apresiasi terhadap konsistensi MGMP dalam membangun jejaring profesional dan terus mendorong guru-guru seni agar lebih adaptif terhadap perkembangan zaman, termasuk dalam merespons tantangan Kurikulum Merdeka. Suasana pembukaan terasa hangat dan penuh semangat, mencerminkan harapan besar terhadap keberlanjutan gerakan seni di sekolah.
Usai pembukaan, peserta diberi waktu untuk istirahat, shalat, dan makan malam hingga pukul 19.00 WIB. Agenda dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Drs. M. Nashir Setiawan, M.Hum., seorang akademisi yang juga praktisi dalam bidang seni rupa dan desain. Beliau membawakan materi bertajuk “Kreativitas Melalui Menggambar” yang mengajak peserta menggali potensi gambar sebagai bahasa visual dan medium berpikir. Dengan pengalaman mengajar mata kuliah menggambar di bidang Desain Komunikasi Visual dan Arsitektur, serta latar belakang riset tentang komik Panji Koming, Nashir membuka wawasan peserta mengenai pentingnya narasi dan emosi dalam proses menggambar.
Kehadiran beliau memantik diskusi hangat seputar metode pengajaran, pemaknaan karya visual, hingga bagaimana guru bisa menginspirasi siswa untuk menuangkan ide dalam bentuk gambar yang komunikatif. Para peserta terlihat sangat antusias, berdiskusi aktif, bahkan saling berbagi praktik baik dari sekolah masing-masing. Materi ini menjadi jembatan menuju sesi kreatif berikutnya, yakni pembentukan kelompok untuk merancang karya seni kolaboratif.
Sesi pembagian kelompok menjadi salah satu momen paling semarak dalam workshop ini. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok lintas daerah, dengan tugas menciptakan karya atau pertunjukan seni yang akan dipresentasikan dalam puncak kegiatan pada 30 Juni 2025 di Selecta, Batu. Proses perencanaan berlangsung hidup: ada yang membahas seni pertunjukan, ada pula yang memilih karya dua dimensi atau instalasi. Masing-masing kelompok mempresentasikan ide awal mereka dengan antusias, saling memberi masukan, dan menyusun langkah konkret untuk berkarya. Workshop ini membuktikan bahwa kolaborasi lintas sekolah dan daerah mampu melahirkan semangat baru, mempererat jaringan guru seni, dan membentuk ruang belajar yang autentik dan saling menguatkan. (myp/red)







