Hari kedua Workshop Guru Seni SMA Jawa Timur 2025 yang berlangsung pada Senin, 30 Juni 2025, menghadirkan suasana yang berbeda dari hari sebelumnya. Kegiatan dipusatkan di kawasan wisata Selecta, Kota Batu, dengan format yang lebih santai namun tetap bermuatan pembelajaran. Para peserta, yang terdiri dari 70 guru seni budaya dari berbagai SMA di Jawa Timur, mengikuti sesi outbond pagi hari yang dikemas dengan tema Dinamika Organisasi dan Kolaborasi Kreatif. Dalam suasana sejuk dan alami, peserta tampak begitu antusias mengikuti setiap permainan yang dirancang untuk membangun kekompakan, kepemimpinan, dan kerja sama. Tawa dan sorak-sorai mewarnai seluruh rangkaian kegiatan, membangun keakraban baru di antara peserta yang sebelumnya belum saling mengenal.
Outbond ini tidak sekadar menjadi sarana penyegaran fisik, tetapi juga menjadi wahana membangun jejaring antarguru seni dari berbagai daerah. Dalam sesi refleksi setelah kegiatan, banyak peserta menyampaikan bahwa mereka merasa lebih terhubung dan memiliki semangat baru untuk membangun kolaborasi lintas sekolah. Interaksi yang terjalin selama outbond membuka ruang untuk bertukar gagasan, berbagi pengalaman, dan merancang kerja sama lebih lanjut di masa depan. Ketua MGMP Seni Budaya SMA Jawa Timur, Deddy Iskandar, S.Sn., menyampaikan harapannya terhadap kegiatan ini. “Melalui outbond ini, kami berharap para peserta saling mengenal dan berinteraksi, sehingga terjalin kolaborasi yang nyata dalam pendidikan seni budaya. Sinergi ini sangat penting untuk peningkatan prestasi siswa Jawa Timur dalam ajang seperti FLS2N, SMA Award, maupun event-event seni lainnya,” ungkap Deddy saat ditemui usai sesi kegiatan.
Memasuki siang hari, kegiatan dilanjutkan dengan presentasi karya dari hasil pembentukan kelompok malam sebelumnya. Lima kelompok yang telah terbentuk di hari pertama menampilkan hasil eksplorasi kreatif mereka di hadapan peserta lain. Setiap kelompok menunjukkan pendekatan yang berbeda-beda—mulai dari pertunjukan musik, tari, drama pendek, hingga karya visual yang dipresentasikan secara performatif. Masing-masing kelompok diberi kesempatan untuk menjelaskan konsep karya, proses kreatif yang mereka jalani, serta nilai-nilai yang ingin mereka sampaikan melalui karya tersebut. Penampilan mereka menjadi bukti bahwa dalam waktu singkat, para guru mampu memadukan ide, keterampilan, dan rasa seni menjadi karya yang utuh dan menggugah.
Antusiasme peserta dalam menampilkan dan mengapresiasi karya sangat terasa sepanjang sesi siang tersebut. Tidak ada kesan kompetisi, yang ada hanyalah semangat saling mendukung dan memberi ruang ekspresi seluas-luasnya. Para peserta tidak hanya menjadi penampil, tetapi juga menjadi penonton yang aktif memberikan apresiasi, komentar positif, dan semangat kepada rekan-rekan mereka. Beberapa penampilan bahkan mengundang gelak tawa sekaligus rasa haru karena sarat makna dan keunikan. Momentum ini menjadi titik puncak yang mengukuhkan bahwa kegiatan workshop bukan hanya tentang belajar teori, tetapi juga praktik nyata membangun ekosistem seni yang hidup.
Workshop hari kedua di Selecta memberikan pengalaman yang menyegarkan sekaligus memperkaya wawasan peserta dalam konteks seni dan pendidikan. Suasana alami, format kegiatan yang cair, serta semangat kolaboratif yang kuat menjadikan hari ini penuh makna. Banyak peserta menyatakan bahwa kegiatan semacam ini perlu menjadi agenda rutin tahunan karena mampu membangun energi baru dan semangat berkarya yang autentik. Di tengah tantangan dunia pendidikan, para guru seni ini pulang dengan semangat baru: bahwa berkarya bersama bukan hanya memperkuat profesionalisme, tetapi juga mempererat rasa kebersamaan sebagai insan pendidikan seni. (myp/red)










